Penjualan SIG Tembus 18,28 Juta Ton, Pasar Domestik Jadi Penopang Utama

JAKARTA – PT Semen Indonesia Tbk atau SIG mencatat total volume penjualan 18,28 juta ton pada semester I 2026, tumbuh 5,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan terutama ditopang pasar domestik. Volume penjualan dalam negeri mencapai 14,18 juta ton atau naik 9,7 persen secara tahunan.

Kenaikan volume penjualan ikut mendorong pendapatan perseroan menjadi Rp17,65 triliun, meningkat 13,1 persen dibandingkan semester I tahun lalu.

EBITDA SIG juga naik 2,6 persen menjadi Rp2,15 triliun. Sementara laba bersih melonjak 445,9 persen menjadi Rp207 miliar.

Adapun laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp228 miliar atau tumbuh 471 persen.

Direktur Utama SIG Indrieffouny Indra mengatakan perbaikan kinerja tersebut tidak terlepas dari transformasi bisnis yang terus dijalankan perseroan.

“Disiplin dan konsistensi menjalankan transformasi bisnis membuat SIG semakin resilience di tengah kondisi industri semen domestik yang menantang. Bahkan, transformasi tidak hanya membuat Perusahaan mampu mencapai pertumbuhan kinerja, tetapi juga memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang,” kata Indrieffouny dalam public expose daring, Selasa, 8 September 2026.

Permintaan Semen Nasional Mulai Pulih

SIG melihat permintaan semen nasional mulai menunjukkan perbaikan seiring meningkatnya aktivitas konstruksi, pembangunan infrastruktur, investasi industri, dan hilirisasi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang optimisme perseroan terhadap prospek penjualan pada semester II 2026.

Saat ini, SIG memiliki sembilan merek semen, yakni Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, Dynamix, Semen Kujang, Semen Andalas, Semen Baturaja, Semen Merdeka, dan Thang Long Cement.

Baca Juga:  Hampir Beres, Bendungan Sidan di Bali Akan Segera Diresmikan

Untuk pasar domestik, produk SIG telah tersertifikasi SNI dan mengandung lebih dari 90 persen komponen dalam negeri atau tingkat komponen dalam negeri.

Operasi perseroan didukung pabrik semen terintegrasi di 10 lokasi, pabrik pengemasan di 26 lokasi, enam pabrik penggilingan semen, dan tujuh pelabuhan.

Jaringan distribusi SIG juga diperkuat lebih dari 300 distributor di Indonesia dan Vietnam melalui Thang Long Cement Company serta lebih dari 63.000 toko ritel di Indonesia.

Dengan jaringan tersebut, SIG mengoptimalkan digitalisasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence dalam pengelolaan rantai pasok.

Langkah itu ditujukan untuk menjaga distribusi tetap lancar dan memastikan ketersediaan produk bahan bangunan di berbagai wilayah secara lebih terukur.

Portofolio Produk Konstruksi Terus Diperluas

SIG juga memperluas portofolio produk di luar semen konvensional.

Untuk mendukung proyek infrastruktur dan perumahan, perseroan memiliki sejumlah produk semen rendah emisi yang disesuaikan dengan kebutuhan konstruksi.

Portofolio tersebut mencakup PwrPro untuk kebutuhan kekuatan tinggi, DuPro+ SBC untuk lingkungan yang membutuhkan ketahanan terhadap air laut, DuPro+ LH untuk ketahanan terhadap asam dan garam, serta MaxStrength Pro untuk pengecoran massal dan stabilisasi tanah.

Di lini beton, SIG juga mengembangkan berbagai produk khusus seperti ThruCrete atau beton berpori, SpeedCrete untuk kebutuhan pengerasan cepat, DekoCrete untuk beton dekoratif, serta paving block berpori.

Perseroan juga menawarkan Bata Interlock Presisi yang diarahkan untuk mempercepat proses konstruksi, meningkatkan efisiensi, dan menjaga kualitas pekerjaan.

Baca Juga:  Banjir Melanda Bali, Kementerian PU Pulihkan Infrastruktur Jalan dan Siagakan Tim 24 Jam

Pengembangan produk tersebut menjadi bagian dari strategi Total Building Solutions yang terus diperkenalkan melalui berbagai pameran konstruksi dan perumahan.

SIG juga kembali mengaktifkan merek Semen Kujang sebagai bagian dari penguatan pasar Jawa Barat. Merek tersebut kemudian menjalin kerja sama sebagai Official Cement Partner Persib Bandung untuk memperluas jangkauan pasar ritel.

Fokus pada Pertumbuhan yang Lebih Profitable

Bagi industri konstruksi, pemulihan penjualan semen menjadi salah satu indikator penting karena konsumsi semen berkaitan erat dengan aktivitas pembangunan.

Peningkatan proyek infrastruktur, kawasan industri, pembangunan perumahan, dan hilirisasi berpotensi menjaga permintaan material konstruksi tetap kuat.

Namun, persaingan industri semen domestik masih menuntut produsen untuk memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi operasional.

SIG memilih memperkuat ekosistem bisnis terintegrasi, jaringan distribusi, dan portofolio produk untuk menjaga pertumbuhan.

“Dengan ekosistem bisnis terintegrasi dan jaringan distribusi yang luas, SIG memiliki fondasi yang kuat untuk mendorong kinerja penjualan dan mencapai pertumbuhan bisnis yang profitable,” ujar Indrieffouny.

Dengan tren pemulihan pasar domestik dan diversifikasi produk konstruksi, SIG menilai semester II 2026 masih memberikan ruang pertumbuhan.

Bagi sektor konstruksi, perkembangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan material tidak lagi hanya berfokus pada volume semen, tetapi juga pada solusi bahan bangunan yang lebih spesifik, efisien, dan berorientasi pada keberlanjutan.#