Ketua Satuan Tugas Perumahan Hashim Djojohadikusumo meminta pengelolaan Hunian Terjangkau Manggarai dilakukan secara ketat agar unit yang disediakan tidak diborong oleh pihak tertentu untuk kepentingan investasi atau spekulasi.
Hashim menegaskan prinsip satu pembeli satu unit perlu diterapkan agar hunian tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat yang menjadi sasaran program.
Pernyataan itu disampaikan saat groundbreaking Hunian Terjangkau Manggarai di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026. Proyek yang dikembangkan di lahan PT Kereta Api Indonesia tersebut direncanakan menghadirkan 3.784 unit hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik.
Hashim mengingatkan adanya kemungkinan seseorang membeli banyak unit dengan menggunakan nama pihak lain untuk menyiasati ketentuan kepemilikan.
“Jangan diborong ya, dari 3.000 nanti orang tertentu beli 300, 500 nanti titip siapa, titip sopirnya, atas nama sopirnya, atas nama office boy-nya,” kata Hashim.
Menurut dia, praktik semacam itu perlu dicegah agar prinsip pemerataan tetap terjaga.
“Kita harus adil, satu pelanggan satu peminat satu apartemen,” ujarnya. Pernyataan mengenai prinsip satu peminat satu unit tersebut juga disampaikan Hashim dalam groundbreaking proyek yang sama.
Lokasi dan Kualitas Bisa Dongkrak Nilai Properti
Perhatian terhadap distribusi unit menjadi penting karena Hunian Manggarai berada di kawasan strategis yang terhubung dengan transportasi publik. Proyek ini dibangun di lahan KAI sekitar 2,2 hektare dan menjadi bagian dari pengembangan hunian berbasis Transit Oriented Development atau TOD.
Hashim menilai kombinasi lokasi strategis dan kualitas bangunan berpotensi meningkatkan nilai properti di kemudian hari. Kondisi tersebut dapat membuka peluang terjadinya pembelian untuk tujuan spekulasi apabila proses verifikasi calon penghuni tidak dilakukan secara ketat.
Karena itu, ketepatan sasaran menjadi bagian penting dari program. Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu juga menyatakan proses verifikasi calon pembeli akan diperketat dan kepemilikan unit diprioritaskan bagi pembeli rumah pertama dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Pengembangan Hunian Manggarai merupakan bagian dari kolaborasi KAI dan BTN dalam penyediaan hunian vertikal yang terintegrasi dengan angkutan massal. Konsep tersebut diarahkan untuk mendekatkan tempat tinggal masyarakat dengan pusat aktivitas dan jaringan transportasi publik.
Pemeliharaan Bangunan Jadi Perhatian
Selain ketepatan sasaran penghuni, Hashim menyoroti pemeliharaan bangunan setelah konstruksi selesai. Menurut dia, kemampuan membangun perlu diikuti dengan pengelolaan dan perawatan yang baik agar kualitas hunian dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
“Titik lemah kita terus terang saja adalah perawatan, pemeliharaan. Kita bangun dengan bagus sekali, dari dulu kita membangun bagus sekali, tapi kelemahan kita terus terang saja itu adalah maintenance,” kata Hashim.
Ia berharap bangunan tetap berada dalam kondisi baik hingga bertahun-tahun setelah dihuni dan tidak mengalami persoalan seperti kebocoran maupun korosi akibat lemahnya perawatan.
Persoalan pemeliharaan menjadi penting pada hunian vertikal karena terdapat berbagai fasilitas bersama yang harus dikelola secara berkelanjutan. Karena itu, Hashim mengusulkan adanya badan atau wadah penghuni yang dapat mengelola kepentingan bersama setelah apartemen ditempati.
Dalam proyek properti, keberhasilan pembangunan memang tidak berhenti pada penyelesaian konstruksi. Pengoperasian dan pemeliharaan menjadi bagian dari siklus bangunan untuk memastikan fasilitas tetap berfungsi dan kualitas hunian terjaga selama masa layanan.
Hunian Terjangkau Perlu Dijaga Tepat Sasaran
Pembangunan Hunian Manggarai mempertemukan dua tantangan dalam penyediaan hunian perkotaan, yakni menyediakan tempat tinggal yang terjangkau di lokasi strategis sekaligus memastikan aset tersebut tetap tepat sasaran setelah nilai propertinya meningkat.
Pengawasan calon pembeli menjadi penting untuk mencegah penguasaan unit oleh pihak tertentu. Pada saat yang sama, sistem pengelolaan setelah serah terima perlu dipersiapkan agar kualitas bangunan tidak menurun karena lemahnya pemeliharaan.
Dengan rencana 3.784 unit dan lokasi yang terintegrasi dengan simpul transportasi Manggarai, proyek ini dapat menjadi salah satu model pengembangan hunian vertikal berbasis TOD. Namun, keberhasilannya tidak hanya akan ditentukan oleh jumlah unit yang berhasil dibangun, melainkan juga oleh ketepatan penerima manfaat dan kemampuan menjaga kualitas bangunan dalam jangka panjang.#







