Kebutuhan hunian layak di Indonesia masih cukup besar. Sekitar 18 juta rumah tangga tercatat masih menempati hunian yang belum memenuhi standar kelayakan, sementara sekitar 9,29 juta rumah tangga belum memiliki rumah.
CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengatakan kondisi tersebut menunjukkan penyediaan hunian masih menjadi salah satu kebutuhan prioritas masyarakat.
Rosan menyampaikan hal itu saat membuka Danantara Housing Expo 2026 di Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurut Rosan, besarnya kebutuhan perumahan perlu dijawab melalui peningkatan pasokan hunian yang diikuti dukungan pembiayaan dan kemudahan akses bagi masyarakat.
Danantara bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman atau PKP berupaya mendorong pemenuhan kebutuhan tersebut agar masyarakat dapat memperoleh rumah dengan lebih cepat sekaligus memenuhi standar kehidupan yang layak.
“Dan kalau kita lihat dari acara pada pagi hari ini, bervariasi dari harga tadi kita lihat bersama di harga Rp120 juta sampai dengan yang tertinggi di level dua atau tiga miliar, jadi kita cover semua segmen yang ada,” kata Rosan.
Kebutuhan Rumah Masih Besar
Besarnya jumlah rumah tangga yang belum memiliki rumah menunjukkan persoalan kepemilikan masih menjadi tantangan dalam sektor perumahan nasional.
Di sisi lain, sekitar 18 juta rumah tangga yang masih menempati hunian belum layak memperlihatkan bahwa tantangan pemerintah bukan sekadar menambah jumlah rumah baru.
Kualitas hunian juga menjadi bagian penting dalam pembangunan perumahan. Rumah harus mampu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi penghuni serta didukung fasilitas dasar yang memadai.
Kondisi tersebut membuat pembangunan sektor perumahan memiliki cakupan yang luas. Selain pembangunan rumah baru, peningkatan kualitas rumah dan kawasan permukiman juga dibutuhkan untuk mengurangi jumlah hunian yang belum memenuhi standar kelayakan.
Danantara Housing Expo 2026 menjadi salah satu upaya mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan pasokan properti dan pembiayaan.
Pameran tersebut menjadi bagian dari dukungan Danantara Indonesia dan ekosistem BUMN terhadap Program 3 Juta Rumah yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah.
Pilihan properti yang ditawarkan mencakup berbagai segmen, mulai dari masyarakat yang mencari rumah pertama hingga hunian untuk keluarga dan segmen premium.
Khusus pengembang BUMN, sebanyak 12 pengembang membawa sekitar 18.559 unit dari 98 proyek yang tersebar di 23 provinsi. Nilai inventori properti tersebut mencapai sekitar Rp9,79 triliun.
Sebagian dari pasokan tersebut diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR, sementara sisanya menyasar pasar non-MBR.
Pembiayaan Jadi Kunci Akses Masyarakat
Selain ketersediaan rumah, kemampuan masyarakat memperoleh pembiayaan menjadi faktor penting dalam mengurangi persoalan kepemilikan hunian.
Dalam Danantara Housing Expo 2026, bank-bank Himbara menawarkan sejumlah skema pembiayaan untuk mempermudah masyarakat membeli rumah.
Program pembiayaan yang ditawarkan antara lain uang muka mulai 1 persen, suku bunga mulai 2,75 persen per tahun pada periode awal, serta tenor pembiayaan yang dapat mencapai 30 tahun dan pada skema tertentu hingga 40 tahun.
Kemudahan tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah yang selama ini menghadapi keterbatasan kemampuan membeli rumah.
Rosan mengatakan upaya menjawab kebutuhan perumahan perlu dilakukan melalui penyediaan hunian terjangkau, pembiayaan yang kompetitif, serta akses yang semakin mudah bagi masyarakat.
Sinergi antara pemerintah, Danantara, pengembang BUMN dan swasta serta perbankan menjadi penting karena persoalan perumahan tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah pasokan.
Rumah yang tersedia juga harus berada dalam jangkauan kemampuan masyarakat untuk membelinya.
Pembangunan Rumah Tetap Harus Mengejar Kelayakan
Besarnya kebutuhan perumahan sekaligus membuka ruang pertumbuhan bagi sektor konstruksi dan industri pendukungnya.
Pembangunan rumah dalam jumlah besar akan berkaitan langsung dengan kebutuhan material konstruksi, tenaga kerja, infrastruktur kawasan, jaringan air bersih, sanitasi, drainase, jalan lingkungan hingga utilitas.
Namun, peningkatan jumlah pembangunan perlu tetap dibarengi pengendalian kualitas.
Target penyediaan rumah dalam jumlah besar tidak seharusnya membuat aspek kelayakan bangunan menjadi perhatian kedua. Mutu struktur, sanitasi, ventilasi, pencahayaan, akses air bersih dan kualitas lingkungan tetap menjadi bagian penting dari sebuah hunian.
Hal tersebut menjadi relevan ketika sekitar 18 juta rumah tangga saat ini masih tercatat tinggal di hunian yang belum memenuhi standar kelayakan.
Dengan demikian, tantangan sektor perumahan Indonesia berada pada dua sisi sekaligus. Pemerintah perlu memperluas kepemilikan rumah bagi masyarakat yang belum memiliki hunian, sekaligus meningkatkan kualitas rumah yang sudah ditempati.
Danantara Housing Expo 2026 yang berlangsung pada 27 hingga 30 Agustus 2026 di Nusantara International Convention Exhibition atau NICE, PIK, menjadi salah satu upaya mempertemukan pengembang, perbankan dan masyarakat dalam satu ekosistem.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses terhadap hunian sekaligus mendukung percepatan Program 3 Juta Rumah.
Bagi sektor konstruksi, besarnya kebutuhan perumahan menunjukkan bahwa pembangunan hunian masih memiliki ruang yang luas. Tantangannya bukan hanya mengejar jumlah unit, tetapi memastikan rumah yang dibangun terjangkau, berkualitas dan benar-benar layak dihuni.#





