Pasar Properti Jakarta Tunjukkan Stabilitas, Didukung Ekspansi Korporasi dan Tren Urbanisasi

Rumah17 Views

Pasar properti Jakarta diperkirakan tetap stabil dengan prospek pertumbuhan positif sepanjang 2026. Aktivitas korporasi yang terus meningkat serta perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi pendorong utama di sektor perkantoran, industri/logistik, ritel, hingga perhotelan.

CBRE Indonesia dalam paparan terbarunya menyebutkan, permintaan dari penyewa di berbagai sektor tetap kuat. Dengan terbatasnya pasokan baru, tekanan terhadap harga sewa pun mulai mereda, memberi ruang bagi stabilisasi pasar.

Angela Wibawa, Managing Director CBRE Advisory Indonesia, menyatakan bahwa ekspansi bisnis dan gaya hidup perkotaan mendorong pertumbuhan di sektor perkantoran dan ritel. Ia juga menyebut peningkatan kunjungan wisata sebagai faktor positif bagi okupansi hotel di Jakarta.

Dari sisi makro, Anton Sitorus, Head of Research & Consulting CBRE, menyoroti bahwa ekonomi Indonesia tetap tangguh dengan rata-rata pertumbuhan PDB 5% dalam lima tahun terakhir. Pemerintah juga menargetkan pertumbuhan lebih tinggi, yakni 6–8% pada 2029. Stabilitas ini, menurutnya, menjadi landasan kuat bagi pengambilan keputusan investasi properti saat ini.

Di sektor perkantoran, penyerapan ruang di kawasan CBD menunjukkan tren positif. Menurut Judy Sinurat dan Albert Dwiyanto, Co-Heads of Office Services CBRE, tingkat hunian kantor di kawasan CBD mencapai 76% pada akhir 2025, sementara wilayah non-CBD mencatatkan 74%. Perpindahan ke gedung-gedung berkualitas lebih tinggi menjadi tren utama.

Sementara itu, sektor industri dan logistik mencatat penyerapan lahan besar hingga 218 hektare pada 2025, dengan okupansi pusat logistik mencapai 95%. Ivana Soesilo, Head of Industrial Services, menyebut sektor e-commerce dan manufaktur kendaraan listrik sebagai pendorong utama permintaan terhadap fasilitas logistik modern.

Di sektor ritel, pusat perbelanjaan tetap menjadi destinasi utama bagi masyarakat urban. Tingkat hunian mal tetap tinggi, di atas 85%, dengan mal premium mencapai hingga 95%. Inovasi seperti pop-up store dan zona gaya hidup turut mendongkrak daya tarik mal di tengah perubahan preferensi konsumen.

Angela menutup dengan menyoroti bahwa Indonesia masih menjadi tujuan strategis investasi properti di kawasan Asia-Pasifik, seiring kekuatan pasar domestik, sumber daya alam, dan dinamika pertumbuhan kelas menengah.

Comment

News Feed